“EEK!”
Entah kenapa benda yang harusnya keluar dari lobang pantat gue, malah keluar lewat mulut gue.
“GUE SUMPAHIN NABRAK LO!”
Akhir minggu di Graha Raya gue kotorin dengan sumpah serapah. Celana pendek kesayangan gue (kesayangan karena di bagian selangkangannya bolong, for aerodynamic purpose) kotor kena cipratan air comberan yang meluap sampai ke tengah jalan, disemburkan secara jumawa oleh Toyota Fortuner yang mungkin dikendarai sama orang kesurupan hantu Colin McRae—ngebut di jalan sempit tanpa trotoar. Gue yang cuma naek sepeda butut milik nyokap gue dulu ya hanya bisa pasrah. Pengennya gue nangis dan teriak “Kenapa Tuhan?? KENAPPHAAAAA??!” dibawah derasnya hujan dengan muka gue di close-up.
Shit-netron abis.
Arogansi pengguna jalan raya semakin terlihat belakangan ini. Ya, gak cuma celana dalem doang yang keliatan dari belakang.
Hilangnya fungsi trotoar serta buruknya penanganan saluran air membuat pengguna jalan pinggiran seperti gue, terpaksa harus mengalah. lebih baik telen aja mentah-mentah kalau tertimpa kejadian seperti yang gue alami barusan. Atau boleh dimasak dulu sampe mateng, hidangkan selagi hangat.
Hujan yang semakin deras memecahkan lamunan gue. gue terpaksa berteduh di bengkel ganti oli mobil pinggiran jalan, persis di seberang sekolah polisi lalu lintas. Gue ngambil jas hujan yang memang udah gue persiapkan di tas ransel. Kemudian dari tas ransel muncul peta. Gue bertanya kepada peta, kemana gue harus bersepeda setelah ini. Lalu ada rubah berwarna jingga muncul. Gue spontan teriak “SWAIPER JANGAN MENCURI!!!”
“Mas, istighfar mas” kata montir bengkel, sembari cekokin oli bekas ke mulut gue.
Setelah pakai jas hujan, gue kembali mengayuh sepeda ke tujuan yang telah gue tetapkan dari rumah. Buat yang pake kendaraan bermotor, 27 kilometer bukan jarak yang jauh. Tapi buat gue yang punya paru-paru udah kayak kantong kresek dan harus gowes, jaraknya segitu berasa jauh banget. Apalagi ditambah ujan deres. Lengkap deh.
Namun ada berkahnya hujan disini. Gue jadi enggak perlu beli air mineral di Alfamart. Karena gue enggak punya kartu Aku maupun kartu Ponta. Males kalo pas mau bayar ditawarin sama mbak-mbak kasirnya. Eniwei kembali ke berkah hujan, karena hujan ini pun gue kalo haus tinggal mangap dan nengok ke atas. Nikmat rasanya, seriusan. Kalaupun ada pup burung yang “numpang” terjun bebas bercampur dengan air hujan, ya rasanya sama-sama nikmat kok.
Setelah bersepeda ria sembari minum air hujan yang terkadang bercampur pup burung, sampailah gue di tempat tujuan dengan gegap gempita. Gue disambut karpet merah dan kilatan-kilatan blitz kamera yang seakan enggak sabar ingin mencium pipi gue. Gue pun senyum sumringah. Tak lupa tangan gue melambai ke arah kamera yang telah siap merekam aksi gue. Tak lama kemudian host acara uji nyali pun datang, dan menanyakan apa saja yang gue lihat dan gue alami.
Oke, mulai serius. gue beneran nyampe ke tempat tujuan gue kok. Tempatnya enggak lebih dari jalan biasa. Bau khas jalan konblok kering yang ditimpa air hujan semerbak menghiasi hidung gue. Terkadang tercium juga samar-samar bau tanah setelah hujan.Petrichor, gue suka banget bau khas ini.
Gue ngambil hape yang ikutan basah karena rembes air hujan. Jas hujan aja enggak mampu nahan deresnya air hujan, apalagi nahan derasnya air mata gue yang terus mengalir tiap kamu sakitin aku? #eeaa
gue ngeliat jam di hape gue
“anjrit, tiga jam gue ngegowes”, gue bergumam dalam hati
Waktu yang setara untuk masak daging rendang supaya empuk dan bumbunya meresap. waktu yang setara pula untuk 4 SKS mata kuliah. tapi waktu yang sebentar kalau dihabiskan bersama denganmu #eeaalagi
Serius lagi ah. tempat tujuan gue emang biasa. Tapi apa yang gue bawa di ransel gue adalah hal yang luar biasa buat gue. Toples Tupperware berwarna hijau yang isinya sup ayam—tadinya panas, cuma karena hujan deras dan udara jadi lebih dingin dari yang biasanya, sup ayam ini ikutan dingin. Padahal udah gue masukin ke Tupperware, ikat pakai plastik, tutup rapat, masukin ransel gue, ranselnya gue pakein rain cover. Itupun masih gue tambah pakai jas hujan lagi (karena gue enggak nyaman pakai tas di luar jas hujan).
Korelasinya sama kayak perasaan yang lo kasih ke seseorang. Sebaik apapun lo lindungin tuh perasaan supaya tetap hangat, pasti lama kelamaan akan dingin juga. Salah lo sih, ngapain perasaan lo dikasih ke seseorang? Sukur-sukur kalo bisa jaga tuh orang, kalo enggak? Rasanya kayak korengan kena aer garem. Perih, men.
Tapi segala sesuatu enggak akan terasa perih kalau lo rela nangis, tereak-tereak, dan nerima yang udah terjadi. enggak ada luka yang langsung sembuh. dia pasti berdarah dulu, terus sakit, jadi koreng, bernanah, muncul belatung, infeksi, amputasi, baru sembuh deh.
Real bro regrets and move over, but real men accepts and move on — kata montir bengkel ganti oli mobil
Gimana nasib sup ayam yang udah dingin tadi? Yah, berujung di meja makan dan dihangatkan kembali bareng nasi di magic jar. Cukup tiga menit
Tiga jam tuh sup ayam jadi dingin di dalam ransel gue, tapi dapat kembali hangat hanya dengan tiga menit di magic jar. Udah sama nasi pula. Tinggal tambahin bakwan jagung dan teh panas. Mantep banget pas lagi hujan begini. Dan yang bikin gue senang adalah, sup ayam tadi bisa dinikmati sama tiga orang sekaligus.
Sedingin-dinginnya perasaan lo, pasti akan ada satu masanya akan kembali hangat, dan ditambah hal lain yang menambah nilai dari perasaan lo tersebut menjadi semakin bermakna. Asalkan lo rela kecipratan aer comberan, sepedahan selama tiga jam, minum aer hujan bercampur pup burung, dan burung lo sendiri membeku gegara selangkangan celana lo bolong.
---
Pas perjalanan pulang, gue pun nyumbang tiga ribu rupiah untuk beli aqua di alfamart
“Punya kartu Aku Ponta-nya, Mas?”
Sumber : Fadhil Ramadhan
Sumber : Fadhil Ramadhan
0 comments :
Post a Comment
Komentar yang akan di publikasikan, hendaknya menggunakan bahasa yang sopan serta beretika. Segala bentuk SARA/PORN/FLOOD/SPAM/ akan di Banned!.